Jangan Panik Saat Dinyatakan Positif, Ini Pengalaman Rektor Uniga usai di Swab

0
221
Rektor Uniga, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng (Ist)
Rektor Uniga, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng (Ist)

GARUT, STATUSJABAR.COM – Menjadi momok menakutkan bagi siapa pun dimasa sekarang ini apabila seseorang dinyatakan tim medis positif terpapar Corona Virus Desease 2019 (Covid-19).

Wabah virus yang hingga kini masih melanda di Indonesia termasuk di Kabupaten Garut, masih gentayangan dan tak melihat siapa yang diserangnya.

Pemerintah pusat sampai daerah saat ini masih terus gencar melaksanakan program vaksinasi. Mulai dosis 1, 2 dan sekarang tahap ketiga, termasuk vaksinasi untuk anak usia 6 sampai 11 tahun. Capaian vaksin menjadi indikator pemerintah pusat untuk menentukan status level bagi wilayah kabupaten dan kota.

Kendati demikian, adanya vaksinasi atau orang sudah vaksin, tak menjamin seseorang untuk tidak terpapar oleh virus Covid-19. Banyak kasus ditemukan, meski sudah vaksin masih tetap saja terpapar positif Covid-19. Namun sejatinya, adalah kesadaran mematuhi protokol kesehatan (prokes) pencegahan yang harus dijalankan semuanya, sehingga upaya pemutusan mata rantai virus akan terlihat dampaknya.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang tokoh pendidikan yang menjabat selaku Rektor Universitas Garut (Uniga), Ir H Abdusy Syakur M Eng, kepada awak media menyampaikan, warga masyarakat jangan panik tapi tetap harus waspada serta menjalankan prokes Covid-19.

Saat ini, kata Syakur, siapa orangnya yang tak panik manakala tim medis memvonis terpapar Covid-19, sekalipun pada kenyataannya secara fisik nampak sehat-sehat saja. Vonis ini cukup berdampak pada psikis seseorang yang pada akhirnya dari awal fisik sehat , namun muncul sugesti dari vonis tim medis, imunitas menurun dan tak kurang banyak orang malah timbul sakit berkelanjutan.

“Saya punya pengalaman baru-baru ini, Senin 07 Februari 2022 lalu saya kondisi sedang sehat, namun karena butuh dokumen surat periksa bebas Covid, saya memeriksakan diri ke salah satu klinik di sekitar Kota Garut. Namun setelah diperiksa, saya lesu menghela nafas, karena hasil test klinik menyatalan positif terpapar,” ungkap Syakur, di ruang kerjanya, Kamis (10/02/2022).

Setelah menerima berkas dari klinik, ia dengan lemah lesu pulang kerumahnya. Namun setelah sampai dirumah, berbicara dengan keluarga dan muncul penasaran sehingga melakukan test kembali karena dirumahnya ada alat untuk test Covid dan ternyata hasilnya negatif.

“Saya bingung, tapi masih penasaran karena kalau test di rumah, kita kan bukan orang medis, saya berangkat ke klinik yang berbeda, test kembali hasilnya negatif. Masih juga penasaran juga, saya berangkat ke Labkesda dan hasilnya sama negatif,” jelas Syakur.

Dari rangkaian test ini, Rektor Uniga ini kembali ke klinik yang awal melakukan test dan menyatakan positif. Ia menyampaikan bahwa ada tiga tempat test yang menyatakan negatif, tapi di klinik tersebut malah divonis positif.

“Sempat berargumen dengan petugas di kkinik bahkan saya ditanya percaya mana hasil test-nya, yang jelas saya percaya yang tiga menyatakan negatif. Hingga akhirnya petugas klinik melakukan test ulang dan katanya dengan merk berbeda dan hasilnya negatif,” beber Syakur.

Ditambahkan Syakur, pelajaran berharga dari gambaran pengalamannya, ia berharap warga Garut khususnya jangan dulu panik apalagi punya sugesti yang menyebabkan kondisi imunitas menurun.

“Awalnya saya juga lesu setelah terima berkas, namun saya melakukan ulang dan akhirnya saya benar-benar negatif. Dari pengalaman ini juga, sejatinya dinas kesehatan juga harus bisa memastikan klinik-klinik di Kabupaten Garut yang melayani test Covid-19, jangan sampai ada terjadi terulang seperti yang terjadi kepada saya,” pungkas Syakur. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here